Sabtu, 03 Maret 2012

Peranan Tata Tertib Sekolah


            Ketertiban dan kedisiplinan di sekolah sangat penting. Hal itu karena sering terjadi pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh siswa. Disiplin dan ketertiban  perlu diatur oleh sebuah tatanan yang disebut Tata tertib sekolah.
            Dalam pembahasan artikel tentang peranan tata tertib sekolah,  Penulis membatasi lingkup masalahnya pada pengertian tata tertib dan manfaatnya.
            Adapun tujuan dari artikel pembahasan tentang peranan tata tertib sekolah terbagi menjadi 2: yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan Umum: Secara umum tujuan yang ingin dicapai melalui pelaksanaan disiplin dan tata tertib sekolah adalah terlaksanaannya kurikulum secara baik yang menunjang peningkatan mutu pendidikan di sekolah, Sedangkan Tujuan Khusus: a)Agar kepala sekolah dapat menciptakan suasana kerja yang menggairahkan bagi seluruh warga sekolah, b)  Agar guru dapat melaksanakan proses belajar mengajar seoptimal mungkin dengan memanfaatkan semua sumber yang ada di sekolah, c) Agar tercipta kerja sama yang erat antara sekolah dengan orang tua dan sekolah dengan masyarakat untuk mengemban tugas pendidikan, d) Agar siswa mempunyai kepribadian yang tangguh, disiplin dan mandiri serta memiliki rasa hormat kepada sekolah, guru, dan orang tua.
Untuk menegakkan disiplin di sekolah perlu ditunjang oleh seperangkat peraturan oleh ketentuan yang secara organisasi mengikat setiap komponen sekolah baik siswa, guru maupun kepala sekolah dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seperangkat peraturan atau ketentuan dimaksud disebut dengan tata tertib.
Menegakkan disiplin dan tata tertib di sekolah haruslah dimulai dan unsur/ kelompok sekolah itu sendiri, yakni kepala sekolah, guru dan siswa serta unsur formal lainnya. Disiplin dan tata tertib merupakan dua hal yang saling terkait, sebab tata tertib pada dasarnya perangkat untuk menegakkan disiplin.
Sekolah adalah organisasi sebagai wadah kerjasama sekelompok orang untuk mencapai satu tujuan. Sekolah sebagai organisasi kerja bermakna bahwa sekolah merupakan suatu lembaga yang mempunyai manajerial fungsional ( ada tujuan yang hendak di capai ) dan sosial ( sosialisasi / hubungan antar personal ) sedangkan sekolah sebagai wadah kerjasama bermakana bahwa sekolah merupakan tempat dimana suatu proses pendidikan terjadi untuk mencapai suatu tujuan yakni membantu siswa untuk mencapai kedewasaannya.
Sebagai lembaga pendidikan, sekolah memiliki fungsi dan tugas edukatif yang mempunyai dimensi :
-         mendidik   
-          mengajar dan melatih
atau dengan kata lain sekolah merupakan tempat terjadinya proses belajar mengajar karena itulah interaksi antara guru dan siswa terjadi disini.
            Disiplin dan tata tertib yang dilaksanakan mempunyai dampak secara langsung kualitas dan hasil pelaksanaan KBM itu sendiri. Dalam kaitanya dengan itulah guru memegang peranan penting dan strtegis, karena disiplin lebih terkait dengan pembentukan sikap mental dan ketauladanan.
            Sikap dan tingkah laku guru mempunyai dampak secara langsung terhadap pembentukan dan pengembangan pribadi ( sikap mental ) siswa. Sikap dan tingkah laku siswa juga cenderung merupakan replikasi dari apa yang diterima dari guru dan sistem yang ada di sekolah.
            Sebagai suatu organisasi, maka sekolah mempunyai tujuan ( tujuan institusional ) kepala sekolah, sebagai manager dan atau administrator bertugas untuk melaksanakan manajemen sekolah atau bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pengelolaan sekolah secara keseluruhan.
            Unsur pokok lainnya yang mendukung secara langsung terhadap kelangsungan KBM di sekolah adalah “ guru “. Guru dalam fungsinya selaku pendidik dan juga pengajar bertanggung jawab atas terlaksananya KBM sesuai dengan yang telah diprogramkan.
            Sedangkan siswa sebagai “ objek ” atau orang yang menerima pendidikan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam pelaksanaan suatu proses pendidikan.
            Disiplin merupakan hal penting yang harus ditanamkan pada anak didik sekolah sedini mungkin. Sekolah adalah tempat utama untuk melatih dan memahami pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari – hari. Dengan tata tertib kelas yang diterapkan setiap hari siswa akan terbiasa disiplin.
            Kelas harus mempunyai tata tertib. Tata tertib kelas ini harus di jelaskan dan dicontohkan kepada siswa serta dilaksanakan secara terus menerus. Tata tertib itu antara lain adalah sebagai berikut :
1.    Masuk Sekolah
  1. Siswa harus datang di sekolah selambat – lambatnya 10 menit sebelum pelajaran dimulai.
  2. Menaruh tas dan alat tulis lainnya di laci meja masing – masing kemudian keluar kelas.
  3. Siswa yang mendapat tugas jaga / piket harus hadir lebih awal
  4. Siswa yang sering terlambat harus diberi teguran.
  5. Siswa yang tidak masuk karena alasan tertentu harus memberitahu sebelum atau sesudahnya secara lisan atau tertulis.
  6. Guru tidak boleh terlambat atau absent tanpa ijin
2.        Masuk kelas
  1. Siswa segera berbaris di depan kelas ketika bel berbunyi
  2. Ketua kelas menyiapkan barisan
  3. Siswa masuk kelas satu persatu dengan tertib dan duduk di tempatnya masing – masing.
  4. Guru memeriksa kerapian, kebersihan dan kesehatan siswa satu persatu, kuku, kerapian rambut, kerapian dan kebersihan baju dan sebagainya.
3.    Di Dalam Kelas
  1. Berdoa bersama dipimpin oleh salah seorang siswa
  2. Memberi salam kepada guru dan pelajaran dimulai
  3. Guru memanggil siswa yang tidak masuk ditulis di papan tulis absent serta alasan / keterangan kenapa tidak masuk.
n.         Pada saat pelajaran berlangsung siswa harus tetap tertib tidak boleh rebut, bercanda atau kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran.
  1. Siswa tidak boleh meninggalkan kelas tanpa alasan tertentu.
  2. Guru juga tidak diperkenankan meninggalkan kelas ketika pelajaran berlangsung, walaupun siswa sedang mengerjaan tugas.
Adapun manfaat tata tertib sekolah, antara lain sebagai berikut:
a) Memberikan dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang.
b) Membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
c) Cara menyelesaikan tuntutan yang ingin ditunjukkan peserta didiknya terhadap  lingkungannya.
d) Untuk mengatur keseimbangan keinginan individu satu dengan individu lainnya.
e) Mendorong siswa melakukan hal-hal yang baik dan benar.
f) Peserta didik belajar dan bermanfaat baginya dan lingkungannya.
g) Kebiasaan baik itu menyebabkan ketenangan jiwanya dan lingkungannya.
Lingkungan sekolah yang teratur, tertib, tenang tersebut memberi gambaran lingkungan siswa yang giat, gigih, serius, penuh perhatian, sungguh-sungguh dan kompetitif dalam pembelajarannya. Lingkungan disiplin seperti itu ikut memberi andil lahirnya siswa-siswa yang berhasil dengan kepribadian unggul. Di sana ada dan terjadi kompetisi positif diantara mereka.
Untuk mencapai dan memiliki ciri-ciri kepribadian tersebut, diperlukan pribadi yang giat, gigih, tekun dan disiplin.
Disiplin dan tata tertib sekolah merupakan pedoman bagi sekolah untuk menciptakan susana sekolah yang aman dan tertib sehingga akan terhindar dari kejadian-kejadian yang bersifat negatif. Hukuman yang diberikan ternyata tidaklah ampuh untuk menangkal beberapa bentuk pelanggaran, malahan akan bertambah keruh permasalahan (silakan baca juga tulisan Antara Hukuman dan Disiplin Sekolah; Kedisiplinan Siswa di Sekolah).
Beberapa kejadian yang bersifat negatif harus segera ditanggulangi dan ditangkal. Pihak sekolah tidak boleh berputus asa bila menghadapi peserta didik banyak melanggar disiplin dan tata tertib sekolah. Dr. D.J. Schwart memberikan empat pedoman untuk menanggulangi/menangkal pelanggaran disiplin dan tata tertib sekolah, antara lain sebagai berikut :
  • Pelajari kemunduran untuk menempuh jalan ke arah kebersihan.
  • Jangan sekali-kali menyalahkan nasib buruk.
  • Gabungkan ketekunan dan eksperimen-eksperimen baru.
  • Ingat, bahwa dalam setiap situasi selalu ada segi baik dan positif. Temukan segi positif itu dan buang keputusan.
Keempat pedoman di atas dapat kita pakai untuk menindaklanjuti jika terjadi pelanggaran terhadap disiplin dan tata tertib sekolah. Nursisto (2002) menjabarkan jenis-jenis pelanggaran yang sering dilakukan oleh peserta didik, misalnya aksi corat-coret, membawa alat main atau bacaan/gambar porno, merokok atau terlibat narkoba, dan perkelahian antarsekolah atau tawuran. Terhadap beberapa pelanggaran disiplin sekolah dan tata tertib sekolah tersebut perlu dicari jalan keluarnya. Beberapa langkah yang perlu dikembangkan dalam menangkal dan menanggulangi pelanggaran disiplin dan tata sekolah tersebut, antara lain:
Menangkal aksi corat-coret
  1. Menggalakkan pelaksanaan kegiatan 7K.
  2. Sesuaikan tempat duduk peserta didik dengan denah kelas.
  3. Diadakan kebersihan sekolah secara kontinyu dan berkala, misalnya sebulan sekali.
  4. Dilakukan kerja bakti massal setiap akhir semester atau akhir tahun pelajaran.
  5. Dicantumkannya sanksi yang jelas dan mendidik bagi peserta didik yang melakukan corat-coret di dinding dan di meja kelas.
  6. Diberikan tugas oleh guru agar peserta didik membuat karangan bagi mereka yang melakukan corat-coret.
  7. Dilakukan pemeriksaan setiap jam pelajaran untuk menangkal aksi corat-coret.
  8. Memasukkan ketentuan sanksi corat-coret di dalam disiplin dan tata tertib sekolah.
  9. Dilaksanakan lomba kebersihan dan keindahan kelas pada kegiatan class meeting.
Menangkal membawa alat main dan bacaan/gambar porno
  1. Dilakukan razia secara tiba-tiba kepada seluruh peserta didik tanpa diberitahu terlebih dahulu.
  2. Menyita semua barang terlarang yang kedapatan di dalam tas atau tersimpan dalam laci meja peserta didik.
  3. Memperhatikan kondisi dan tingkah laku peserta didik pada saat proses pembelajaran.
  4. Sesekali memberikan pertanyaan kepada peserta didik sehingga tidak membuat kesempatan baginya untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
  5. Sesekali guru berpindah posisi dalam mengajar agar perhatiannya menyeluruh kepada peserta didik.
  6. Mencantumkan larangan membawa barang-barang yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran di sekolah.
  7. Guru bimbingan dan konseling dan guru pendidikan agama mengambil peran dan berinisiatif untuk menyadarkan peserta didik agar jangan melakukan hal-hal yang terlarang.
Menangkal membawa rokok atau narkoba
  1. Dilakukan penggeledahan isi tas peserta didik.
  2. Melakukan pengawasan secara khusus kepada peserta didik yang patut dicurigai membawa rokok atau narkoba.
  3. Melakukan kerja sama dengan pihak lain di luar sekolah, misalnya warga masyarakat, pemerintah setempat, dan aparat kepolisian.
  4. Memberikan laporan secepatnya kepada orang tua peserta didik bila terjadi tanda-tanda peserta didik melakukan penyimpangan dari tata tertib sekolah yang berhubungan dengan merokok atau mengonsumsi narkoba.
  5. Diadakan ceramah atau penyuluhan tentang bahaya merokok atau mengonsumsi narkoba oleh pihak-pihak yang berkompeten dan relevan, misalnya dari seorang dokter, psikiater, dan kepolisian, serta para alim ulama.
  6. Perlunya memberikan penekanan pada masalah keduanya dikaitkan dengan pelajaran agama (imtaq) dan budi pekerti oleh guru yang berkompeten.
  7. Orang tua peserta didik diminta mengisi surat pernyataan bahwa bila ternyata anaknya terlibat dalam pelanggaran merokok dan narkoba tadi dapat dikeluarkan dari sekolah.
Menangkal perkelahian antar sekolah/tawuran antar pelajar
  1. Sekolah menyediakan media penyaluran bakat, minat, dan kelebihan potensi peserta didik. Karena peserta didik mempunyai potensi atau kelebihan energi dan memerlukan penyaluran, maka kebutuhan bidang-bidang olahraga, seni, dan kreativitas umum perlu diciptakan.
  2. Di sekolah perlu dibentuk tim-tim olahraga dan seni maupun kegiatan ekstrakurikuler yang lain. Beberapa bidang yang dapat digunakan untuk penyaluran bakat/minat itu misalnya pramuka, karang taruna, cinta alam, dan PMR.
  3. Sekolah membuat program-program yang memberikan peluang kepada peserta didik untuk menuangkan prestasi dan kreasi. Majalah dinding, majalah sekolah, lomba sepak bola, voli, tenis meja, bola basket diatur sedemikian rupa sehingga para peserta didik merasa memperoleh penyaluran kelebihan tenaga mereka. Bidang seni teater dan musik digalakkan agar peserta didik mendapat tempat untuk bereksistensi sesuai dengan jiwa muda mereka.
  4. Pihak antar sekolah yang berdekatan sebaiknya membentuk ikatan atau persatuan pengurus OSIS. Dari banyak pengurus OSIS di sekolah itu kemudian dibentuk sebuah ikatan kepengurusan pada tingkat kota/kabupaten. Tugasnya agar saling menciptakan iklim ketentraman bersama, menjalin kerukunan antarsekolah sekaligus menjadi penengah bila terjadi perkelahian antarsekolah.
  5. Dilakukan suatu kegiatan program bersama. Misalnya digelar sebuah pentas teater yang diperankan oleh tiap-tiap sekolah.
  6. Mengadakan kegiatan secara terpadu dalam rangka memperingati hari-hari besar, misalnya hari bebas rokok dan diadakan dialog antar pelajar yang mewakili tiap-tiap sekolah.
Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk mencapai keberhasilan
siswa dalam belajar di sekolah adalah menegakkan disiplin dan ketertiban,
yang dapat dilaksanakan dilandasi budi pekerti yang diintegrasikan pada
mata pelajaran seperti pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan.
Bahasa Indonesia, pendidikan jasmani dan bahasa daerah serta mata
pelajaran lain yang relevan.
Hukuman skor poin dalam Buku Saku Tata tertib Siswa adalah alat kontrol perkembangan kepribadian siswa di dalam maupun di luar sekolah.
Dasar pengambilan Tindakan Hukuman skor poin adalah siswa melanggar tata tertib sekolah yang seharusnya dipatuhi oleh siswa.
Dalam hal pelanggaran, semua guru berhak memberikan skor poin kepada siswa yang melanggar, setelah poin mencapai kapasitas yang ditentukan, maka guru atau kepala sekolah berhak menghukum atau memberikan sangsi kepada siswa, kemudian setelah guru atau kepala  sekolah memberi hukuman, siswa tersebut di kirim kepada guru bimbingan konselinguntukditindaklanjuti.
Pembudayaan disiplin tidak cukup hanya dengan melalui peraturan tata tertib yang diumumkan secara lisan atau tertulis saja. Keteladanan dorongan serta bimbingan dalam bentuk – bentuk konkrit sangat diperlukan bahkan keikutsertaan warga sekolah secara langsung akan lebih tepat dan berhasil.
Oleh karena itu, satu – satunya harapan agar apa yang telah tertuang dalam artikel ini dapat terlaksana dengan sebaik – baiknya diperlukan adanya kesadaran yang penuh, kesiapan untuk melakukan, serta langkah – langkah nyata dalam perbuatan dari semua pihak warga sekolah yaitu Kepala Sekolah, Guru, Penjaga Sekolah dan Siswa.
Terkait erat dengan peranan unsur penanggung jawab pendidikan lainnya yaitu peran keluarga dan masyarakat, kerja sama, kesepahaman, serta kesamaan pengertian tentang perlu tegaknya disiplin dan tata tertib pada siswa, banyak ditentukan oleh dukungan serta bantuan orang tua dan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar